AI Diproyeksi Jadi Penggerak Utama Saham Asia pada Semester II 2026, Ini Penjelasan Manulife

AI Diproyeksi Jadi Penggerak Utama Saham Asia pada Semester II 2026, Ini Penjelasan Manulife

Bagi investor, perubahan ini menunjukkan bahwa AI telah berkembang menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru. Fokus pasar tidak lagi hanya tertuju pada perusahaan yang mengembangkan teknologi AI, tetapi juga pada ...

Bagi investor, perubahan ini menunjukkan bahwa AI telah berkembang menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru. Fokus pasar tidak lagi hanya tertuju pada perusahaan yang mengembangkan teknologi AI, tetapi juga pada perusahaan yang membangun fondasi agar teknologi tersebut dapat berkembang secara masif.

Ringkasan

AI diperkirakan menjadi penggerak utama saham Asia karena kawasan ini memiliki posisi strategis dalam rantai pasok global teknologi. Mulai dari produksi cip semikonduktor, manufaktur perangkat elektronik, hingga pengembangan infrastruktur pendukung AI, sebagian besar aktivitas tersebut terkonsentrasi di Asia.

Beberapa faktor yang menopang optimisme tersebut antara lain:

  • Permintaan cip AI terus meningkat seiring ekspansi teknologi generatif.

  • Taiwan dan Korea Selatan menjadi pusat produksi semikonduktor dunia.

  • Tiongkok mempercepat pengembangan AI, manufaktur canggih, dan elektrifikasi industri.

  • Investasi pada pusat data (data center) dan infrastruktur digital terus bertambah.

  • Dukungan kebijakan di sejumlah negara Asia memperkuat prospek pertumbuhan sektor teknologi.

Kombinasi faktor tersebut membuat AI tidak lagi dipandang sebagai tren sesaat, melainkan sebagai penggerak pertumbuhan laba perusahaan dalam jangka panjang.

Berbeda dengan beberapa tahun lalu ketika investor lebih banyak mengejar saham perusahaan teknologi besar, kini perhatian mulai bergeser ke seluruh ekosistem AI. Artinya, peluang tidak hanya berada pada pengembang perangkat lunak, tetapi juga pada perusahaan yang memproduksi cip, server, komponen elektronik, hingga peralatan kelistrikan.

Perubahan cara pandang inilah yang dinilai menjadi salah satu alasan mengapa saham Asia tetap memiliki prospek positif meski kondisi ekonomi global masih dipenuhi ketidakpastian.

AI Mengubah Cara Investor Melihat Pasar Asia

Selama beberapa tahun terakhir, narasi investasi global didominasi oleh perusahaan teknologi Amerika Serikat yang menjadi pionir pengembangan AI. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan industri AI tidak dapat dipisahkan dari rantai pasok yang sebagian besar berada di Asia.

Ketika perusahaan teknologi membangun model AI yang semakin canggih, kebutuhan terhadap cip berkinerja tinggi, server, pusat data, jaringan listrik, dan perangkat elektronik ikut meningkat. Sebagian besar komponen tersebut diproduksi oleh perusahaan-perusahaan di Taiwan, Korea Selatan, hingga Tiongkok.

Dengan kata lain, semakin besar investasi global pada AI, semakin besar pula potensi pertumbuhan perusahaan Asia yang menjadi pemasok teknologi tersebut.

Inilah yang membedakan siklus AI saat ini dengan tren teknologi sebelumnya. Nilai ekonominya tidak hanya terkonsentrasi pada perusahaan pembuat aplikasi AI, tetapi menyebar ke berbagai sektor yang menjadi bagian dari rantai pasok industri.

Bagi investor, perubahan ini membuka peluang diversifikasi yang lebih luas. Mereka tidak lagi harus bergantung pada satu jenis saham teknologi, melainkan dapat memperoleh eksposur terhadap pertumbuhan AI melalui berbagai sektor industri di Asia.

Manulife: AI dan Semikonduktor Masih Menawarkan Peluang Besar

Dalam outlook semester II 2026, Manulife Investment Management menilai prospek saham Asia tetap konstruktif karena didukung oleh perbaikan laba perusahaan serta berkembangnya sektor-sektor strategis yang berkaitan dengan AI.

June Chua, Head of Asia Equities Manulife Investment Management, mengatakan pihaknya melihat peluang pertumbuhan yang semakin luas di Tiongkok.

"Di Tiongkok Daratan, kami melihat perbaikan prospek laba yang lebih berkelanjutan dalam 12 hingga 18 bulan ke depan, setelah periode pelemahan sebelumnya. Seiring pemulihan ekonomi yang semakin meluas dan stabilisasi siklus industri, kami tetap melihat peluang di berbagai area seperti AI, semikonduktor, manufaktur canggih, dan peralatan kelistrikan. Bersama dengan dukungan kebijakan dan valuasi yang masih menarik, hal ini menunjukkan latar belakang yang lebih konstruktif bagi saham Tiongkok dalam jangka menengah," ujar Chua melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, Selasa, 14 Juli 2026.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa AI bukan menjadi satu-satunya faktor yang diperhatikan investor. Pertumbuhan sektor ini diperkuat oleh membaiknya kondisi fundamental perusahaan serta dukungan kebijakan yang dinilai mampu menjaga momentum investasi.

Selain itu, valuasi yang masih relatif menarik membuat sejumlah saham Asia dipandang memiliki ruang pertumbuhan yang lebih besar dibandingkan pasar yang sudah mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

AI Tidak Berdiri Sendiri, Melainkan Menggerakkan Banyak Industri

Salah satu kesalahan yang masih sering terjadi adalah menganggap AI hanya berkaitan dengan perusahaan pembuat chatbot atau perangkat lunak.

Padahal, ketika sebuah perusahaan teknologi membangun pusat data AI baru, kebutuhan yang muncul jauh lebih kompleks. Mereka memerlukan ribuan cip semikonduktor berperforma tinggi, server, sistem pendingin, perangkat kelistrikan, hingga komponen elektronik presisi.

Artinya, setiap peningkatan investasi AI akan menciptakan permintaan baru di berbagai sektor industri.

Fenomena ini menjelaskan mengapa saham perusahaan semikonduktor, manufaktur canggih, dan penyedia infrastruktur teknologi di Asia berpotensi memperoleh manfaat jangka panjang. Nilai ekonomi AI tidak hanya tercipta dari aplikasi yang digunakan masyarakat, tetapi juga dari seluruh ekosistem yang memungkinkan teknologi tersebut berkembang.

Perubahan inilah yang menjadi salah satu pesan terpenting dalam outlook terbaru Manulife. Asia tidak lagi dipandang sekadar sebagai pusat manufaktur dunia, melainkan sebagai kawasan yang memegang peran strategis dalam membangun fondasi ekonomi berbasis AI.

Baca Juga: Modal Asing Rp1,74 Triliun Kabur dari Pasar Saham RI dalam Sepekan

Baca Juga: OJK Catat Lonjakan Investor di Tengah Koreksi Bursa Saham

Mengapa Taiwan, Korea Selatan, dan Tiongkok Menjadi Pusat Pertumbuhan AI?

Salah satu alasan utama Manulife Investment Management mempertahankan pandangan positif terhadap saham Asia adalah posisi strategis kawasan ini dalam rantai pasok AI global. Berbeda dengan persepsi umum yang hanya mengaitkan AI dengan perusahaan pembuat perangkat lunak atau chatbot, perkembangan teknologi ini justru bergantung pada jaringan industri yang jauh lebih luas.

Di sinilah Taiwan, Korea Selatan, dan Tiongkok memainkan peran penting.

Taiwan dikenal sebagai pusat produksi semikonduktor tercanggih di dunia. Cip yang diproduksi perusahaan-perusahaan di negara tersebut menjadi komponen utama dalam menjalankan model AI berkapasitas besar.

Sementara itu, Korea Selatan memiliki keunggulan pada industri memori dan komponen elektronik berteknologi tinggi yang menjadi kebutuhan utama pusat data (data center).

Di sisi lain, Tiongkok terus memperkuat kapasitasnya melalui pengembangan AI, manufaktur canggih, elektrifikasi industri, hingga investasi besar dalam infrastruktur digital.

Menurut June Chua, ketiga negara tersebut memperoleh manfaat langsung dari meningkatnya investasi AI secara global.

"Pada saat yang sama, Taiwan dan Korea Selatan terus memperoleh manfaat dari momentum kuat dalam ekosistem AI. Rantai pasok yang mendalam dan resilien, ditambah dengan peningkatan teknologi yang terus berlangsung, telah mendorong pertumbuhan laba yang nyata di sektor semikonduktor dan industri terkait."

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa AI telah menciptakan efek domino bagi berbagai industri. Ketika permintaan terhadap teknologi AI meningkat, perusahaan yang memproduksi cip, komponen elektronik, hingga perangkat pendukung ikut menikmati peningkatan pendapatan.

Dengan kata lain, Asia bukan hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga menjadi produsen berbagai komponen yang membuat teknologi tersebut dapat berkembang.

AI Bukan Hanya Menguntungkan Perusahaan Teknologi

Salah satu insight penting dari outlook Manulife adalah perubahan cara memandang industri AI.

Selama ini, banyak investor beranggapan bahwa peluang terbesar hanya berada pada perusahaan yang mengembangkan model AI. Padahal, nilai ekonomi terbesar justru tersebar di sepanjang rantai pasok teknologi tersebut.

Sebagai ilustrasi, bayangkan sebuah perusahaan teknologi global membangun pusat data AI baru.

Agar proyek tersebut dapat beroperasi, perusahaan membutuhkan:

  • Cip semikonduktor berkinerja tinggi.

  • Server dalam jumlah besar.

  • Sistem pendingin khusus.

  • Infrastruktur kelistrikan.

  • Kabel dan komponen elektronik.

  • Peralatan manufaktur presisi.

Sebagian besar kebutuhan tersebut diproduksi oleh perusahaan-perusahaan di Asia.

Artinya, ketika investasi AI meningkat, bukan hanya perusahaan pembuat aplikasi AI yang memperoleh keuntungan. Perusahaan manufaktur, produsen semikonduktor, penyedia peralatan listrik, hingga industri logistik juga ikut merasakan dampaknya.

Inilah perubahan besar yang mulai diperhatikan investor global.

Jika pada gelombang pertama AI perhatian hanya tertuju pada perusahaan teknologi besar, maka pada fase berikutnya fokus investasi bergeser menuju perusahaan yang menjadi fondasi ekosistem AI.

Perubahan narasi investasi inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa prospek saham Asia dipandang semakin menarik.

Risiko yang Tetap Membayangi Prospek AI di Asia

Meski AI diperkirakan menjadi mesin pertumbuhan baru, bukan berarti perjalanan sektor ini akan bebas hambatan.

Manulife mengingatkan bahwa investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko global yang dapat memengaruhi pergerakan pasar.

Beberapa di antaranya meliputi:

  • Konflik geopolitik yang masih berlangsung.

  • Gangguan rantai pasok global.

  • Harga energi yang tinggi.

  • Inflasi yang bertahan lebih lama.

  • Sikap bank sentral yang tetap hawkish.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas pasar dalam jangka pendek.

Namun, menurut Manulife, perusahaan dengan fundamental kuat dan berada pada sektor strategis masih memiliki peluang mempertahankan pertumbuhan.

Karena itu, kemampuan memilih sektor dan perusahaan menjadi semakin penting dibandingkan sekadar mengikuti sentimen pasar.

Strategi Investasi yang Disarankan Manulife

Menghadapi kondisi global yang semakin kompleks, Manulife menilai investor perlu menerapkan pendekatan yang lebih selektif.

Luke Browne, Global Head of Multi-Asset Solutions Manulife Investment Management, mengatakan peluang investasi kini tidak lagi tersebar merata.

"Dengan pasar tenaga kerja yang masih kuat dan menunda terjadinya pelonggaran moneter yang signifikan, kami mempertahankan pendekatan yang sangat selektif dalam alokasi aset. Meskipun pasar masih ditopang oleh kinerja laba yang resilien dan pertumbuhan yang stabil, risiko dan peluang menjadi semakin tidak merata antar kawasan dan kelas aset. Hal ini menegaskan pentingnya diversifikasi dan pengelolaan investasi secara aktif," kata Browne.

Menurut Browne, kepemimpinan pasar saham juga diperkirakan akan semakin meluas.

"Kami memperkirakan kepemimpinan pasar saham akan meluas, tidak lagi hanya bertumpu pada saham teknologi berkapitalisasi besar dan artificial intelligence (AI), tetapi juga ke segmen aset berkualitas tinggi dan valuasi pasar yang menarik. Menjaga pendekatan multi-asset yang seimbang akan menjadi kunci untuk menghadapi volatilitas geopolitik dan valuasi, sekaligus menangkap peluang secara selektif di pasar global, seiring Asia yang terus memperoleh manfaat dari pertumbuhan struktural dan tema investasi terkait AI."

Pandangan tersebut menegaskan bahwa AI tetap menjadi tema investasi penting, tetapi investor juga perlu memperhatikan kualitas fundamental perusahaan, valuasi, serta diversifikasi lintas aset agar portofolio lebih tangguh menghadapi perubahan kondisi pasar.


Apa Arti Tren AI Ini bagi Investor Indonesia?

Bagi investor Indonesia, outlook Manulife memberikan perspektif bahwa AI bukan lagi sekadar isu teknologi, melainkan telah menjadi salah satu pendorong utama perubahan struktur ekonomi global.

Selama ini, banyak investor lokal mengenal AI melalui produk seperti chatbot atau aplikasi generatif. Padahal, peluang ekonomi terbesar justru berada pada perusahaan yang membangun infrastruktur di balik teknologi tersebut.

Artinya, memahami perkembangan industri semikonduktor, manufaktur canggih, pusat data, hingga elektrifikasi menjadi semakin relevan bagi siapa pun yang ingin mengikuti tren investasi global.

Meski demikian, investor juga perlu memahami bahwa perkembangan AI tidak menjamin seluruh saham teknologi akan mencatatkan kenaikan. Perbedaan kinerja antarsektor diperkirakan akan semakin lebar sehingga analisis fundamental tetap menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan investasi.

AI Mengubah Peta Investasi, Asia Menjadi Pusat Pertumbuhan Baru

Selama beberapa tahun terakhir, AI sering diposisikan sebagai cerita sukses perusahaan teknologi besar. Namun, outlook terbaru Manulife memperlihatkan perubahan yang lebih mendasar.

Kini, AI telah berkembang menjadi penggerak investasi lintas sektor.

Ketika dunia berbicara mengenai AI, sesungguhnya yang sedang berkembang bukan hanya perangkat lunak, tetapi juga industri semikonduktor, manufaktur presisi, jaringan listrik, pusat data, hingga logistik teknologi.

Menariknya, sebagian besar rantai pasok tersebut berada di Asia.

Kondisi inilah yang membuat Asia tidak lagi dipandang sekadar sebagai kawasan manufaktur berbiaya rendah, tetapi mulai menjadi pusat inovasi industri yang menopang ekonomi digital global.

Jika tren ini terus berlanjut, maka peluang pertumbuhan kawasan Asia tidak hanya berasal dari pemulihan ekonomi pascapandemi, melainkan dari perubahan struktural yang diperkirakan berlangsung dalam jangka panjang.

Penutup

Perkembangan AI telah membawa perubahan besar terhadap cara investor memandang pasar saham Asia. Jika sebelumnya perhatian lebih banyak tertuju pada perusahaan teknologi besar di negara maju, kini fokus mulai bergeser ke kawasan yang menjadi pusat rantai pasok AI global.

Menurut outlook semester II 2026 yang dirilis Manulife Investment Management, Asia memiliki posisi strategis dalam transformasi tersebut berkat kekuatan sektor semikonduktor, manufaktur canggih, serta dukungan kebijakan di sejumlah negara.

Meski tantangan seperti konflik geopolitik, inflasi, dan suku bunga tinggi masih membayangi pasar, AI dinilai mampu menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan saham Asia dalam jangka menengah hingga panjang.

Bagi investor, pesan terpenting dari outlook ini bukan sekadar mengikuti tren AI, tetapi memahami bagaimana teknologi tersebut mengubah struktur industri dan membuka peluang baru di berbagai sektor. Di tengah perubahan lanskap investasi global, kemampuan membaca arah transformasi ekonomi akan menjadi modal penting dalam membangun portofolio yang lebih adaptif.

Pantau terus perkembangan AI dan pasar modal Asia agar dapat memahami peluang serta risiko yang muncul dari transformasi teknologi yang sedang berlangsung.

Baca Juga: Di Tengah Ketidakpastian Ekonomi, Mirae Asset Tetap Jagokan Saham BBCA, Ini Alasan Fundamentalnya Dinilai Paling Kuat

Baca Juga: Volatilitas dalam Pasar Saham

FAQ

Mengapa AI diproyeksi menjadi penggerak utama saham Asia?

AI meningkatkan permintaan terhadap semikonduktor, pusat data, manufaktur canggih, dan infrastruktur teknologi. Karena sebagian besar rantai pasok tersebut berada di Asia, perusahaan di kawasan ini berpotensi memperoleh manfaat dari meningkatnya investasi AI global.

Apa hubungan AI dengan industri semikonduktor?

Model AI membutuhkan cip berkinerja tinggi untuk memproses data dalam jumlah besar. Hal ini membuat produsen semikonduktor menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan dari berkembangnya teknologi AI.

Mengapa Taiwan dan Korea Selatan penting dalam ekosistem AI?

Taiwan merupakan pusat produksi semikonduktor global, sedangkan Korea Selatan memiliki keunggulan dalam industri memori dan komponen elektronik. Keduanya menjadi bagian penting dalam rantai pasok AI dunia.

Apakah saham AI masih menarik pada semester II 2026?

Menurut outlook Manulife Investment Management, tema AI masih memiliki prospek positif karena didukung pertumbuhan laba perusahaan, peningkatan investasi teknologi, dan perkembangan infrastruktur digital di Asia.

Apa risiko terbesar bagi perkembangan AI di Asia?

Beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, inflasi, harga energi, serta kebijakan suku bunga yang lebih ketat.

Bagaimana strategi investasi menghadapi tren AI?

Manulife menyarankan investor menerapkan diversifikasi, melakukan seleksi aset secara aktif, dan tidak hanya berfokus pada saham teknologi besar. Perusahaan yang menjadi bagian dari ekosistem AI juga dinilai memiliki peluang pertumbuhan yang menarik.