Abu Krakatau Setinggi 7.000 Kaki Bergerak ke Banten, Ini Kata BMKG
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan laporan sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau terbaru. Laporan ini didasarkan pada informasi dari PVMBG, VAAC Darwin, dan analisis citra RGB Himawari-9 pada 8 September 2026 pukul 15.00 WIB.
Berdasarkan laporan tersebut, pada klaster ketinggian hingga 7.000 kaki (2,1 km), arah debu vulkanik bergerak ke arah selatan dan barat laut. Wilayah yang terdampak meliputi sebagian Banten Barat Daya, Lampung bagian selatan, serta Samudra Hindia barat daya Banten.
Mengutip akun Instagram @infobmkg, paparan debu vulkanik ini dapat menimbulkan dampak bagi kesehatan dan transportasi darat.
Pilihan Redaksi
- Prabowo Mau Gabungkan Badan Geologi ke BMKG, Puan Ikut Buka Suara
- Jakarta-Jawa Siaga Megathrust-Tsunami? BMKG & Pakar Kasih Penjelasan
- 11 Gunung Api di RI Erupsi Sepanjang 2026, Ini Daftarnya
Pada sektor kesehatan, dampaknya meliputi:
-
Iritasi mata dan kulit
-
Batuk serta gangguan pernapasan
-
Memperburuk kondisi bagi masyarakat yang memiliki riwayat gangguan pernapasan
Pada sektor transportasi darat, dampaknya meliputi:
-
Berkurangnya jarak pandang
-
Jalan menjadi licin
-
Mengganggu kenyamanan dan keselamatan berkendara
BMKG juga memberikan sejumlah imbauan kepada masyarakat agar tetap waspada namun tidak panik dalam menghadapi sebaran abu vulkanik ini.
Bagi masyarakat yang berada di sekitar Banten bagian barat daya, Lampung bagian selatan, serta wilayah pesisir sekitar Selat Sunda, berikut imbauan yang disampaikan:
-
Mengikuti perkembangan informasi dari sumber resmi
-
Tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi
-
Mengikuti arahan BMKG, PVMBG/Badan Geologi, dan pemerintah setempat
"Masyarakat, khususnya di sekitar pesisir Selat Sunda, diimbau tetap waspada, tidak panik, serta mengikuti informasi resmi BMKG, PVMBG/Badan Geologi, dan pemerintah setempat," tulis BMKG.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]