5 Kandidat Pelatih yang Bisa Dipecat Pertama di Premier League Musim Ini
Liputan6.com, Jakarta - Persaingan Premier League 2026-27 baru berjalan beberapa pekan, tetapi tekanan terhadap sejumlah pelatih sudah mulai meningkat. Hasil buruk pada awal musim membuat beberapa klub harus segera menemukan solusi sebelum situasi berkembang lebih jauh.
Musim lalu menjadi contoh betapa cepatnya perubahan dapat terjadi di kasta tertinggi sepak bola Inggris. Sebanyak 11 pelatih kehilangan pekerjaan sepanjang 2025-26, termasuk dua yang sudah dipecat sebelum Oktober.
Belum ada pelatih yang kehilangan pekerjaan pada musim ini. Namun, performa sejumlah tim membuat posisi mereka mulai dipertanyakan, terutama ketika hasil buruk tidak sejalan dengan investasi klub atau target yang telah ditetapkan.
Roberto De Zerbi dan Michael Carrick
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5554572/original/047374300_1776076940-000_A7JG3CX.jpg)
Perbesar
Roberto De Zerbi menjadi salah satu nama yang paling banyak berada dalam tekanan. Setelah membawa Tottenham Hotspur bertahan di Premier League musim lalu, pelatih asal Italia tersebut belum mampu mengangkat performa tim meski klub mengeluarkan sekitar 365 juta euro (Rp6,5 triliun) untuk mendatangkan pemain baru.
Tottenham baru mengoleksi dua poin dari lima pertandingan. Mereka bermain imbang tanpa gol melawan Nottingham Forest dan Everton, serta kalah dari Brentford, Newcastle United, dan Aston Villa. Spurs juga sudah tersingkir dari Carabao Cup.
Michael Carrick juga menghadapi awal musim yang sulit bersama Manchester United. Setelah membawa klub bangkit ketika berstatus pelatih interim musim lalu, Carrick kini menghadapi periode berbeda setelah United kalah dari Hull City, Manchester City, dan Brighton Albion.
Kemenangan besar atas Ipswich Town dan Sabah FK belum mampu menghapus persoalan dalam permainan United. Minimnya penguatan di lini pertahanan dan serangan juga menjadi tantangan tambahan bagi Carrick. Jika hasil buruk berlanjut, tekanan terhadap mantan gelandang United itu berpotensi meningkat.
Álvaro Arbeloa dan Pierre Sage
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354112/original/061601600_1790005121-alvaro_1.jpg)
Perbesar
Álvaro Arbeloa mengambil alih Fulham setelah Marco Silva meninggalkan klub. Pergantian tersebut membawa risiko besar karena Silva sebelumnya mampu menjaga konsistensi Fulham di Premier League.
Arbeloa langsung menghadapi tiga kekalahan beruntun, termasuk ketika menghadapi Chelsea dan Crystal Palace. Hasil imbang melawan Liverpool dan Manchester United kemudian membantu memperbaiki situasi, tetapi posisi sang pelatih masih belum sepenuhnya aman.
Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6
Pierre Sage juga mendapat tugas berat di Crystal Palace setelah Oliver Glasner pergi pada akhir musim lalu. Glasner meninggalkan standar tinggi setelah membawa Palace meraih FA Cup, Community Shield, dan Conference League. Sage baru meraih satu kemenangan Premier League dari lima pertandingan, yakni ketika menang 3-2 atas Fulham. Palace juga sudah kebobolan 11 gol. Kehadiran mereka di Europa League dapat semakin menguras kedalaman skuad sepanjang musim.