3 Pulau di Indonesia yang Konon Hanya Dihuni Kuburan

3 Pulau di Indonesia yang Konon Hanya Dihuni Kuburan

CNN Indonesia Selasa, 14 Jul 2026 09:45 WIB Ilustrasi. Desa Trunyan, Bali jadi salah satu Pulau Kuburan d...

CNN Indonesia

Selasa, 14 Jul 2026 09:45 WIB

Desa Trunyan, Bali jadi salah satu Pulau Kuburan di Indonesia.
Ilustrasi. Desa Trunyan, Bali jadi salah satu Pulau Kuburan di Indonesia. (iStockphoto/RibeirodosSantos)

Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Pulau identik dengan pantai, perkampungan, atau destinasi wisata. Namun, di Indonesia ada sejumlah pulau yang memiliki fungsi berbeda. Alih-alih menjadi tempat bermukim, pulau-pulau ini justru dikenal sebagai lokasi pemakaman yang sarat sejarah, tradisi, hingga nilai budaya.

Sebagian memang tidak memiliki permukiman sama sekali, sementara sebagian lainnya berada dekat dengan desa yang masih dihuni masyarakat. Meski sering disebut sebagai 'pulau yang hanya dihuni kuburan', keberadaan pulau-pulau ini sebenarnya menjadi bagian penting dari warisan budaya dan sejarah masyarakat setempat.

Berikut tiga pulau di Indonesia yang terkenal sebagai pulau pemakaman, melansir berbagai sumber:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Pulau Trunyan, Bali

A group of human skulls aligned over a wall with tree roots and green plants surrounding them. All lower jaws except one are missing. Some still have some teeth. Most are partially or totally covered with green lichen.Desa Trunyan, Bali. (Foto: iStockphoto/RibeirodosSantos)

Pulau atau kawasan pemakaman Trunyan di tepi Danau Batur, Kabupaten Bangli, Bali, menjadi salah satu lokasi pemakaman paling unik di Indonesia. Tempat ini merupakan bagian dari Desa Trunyan yang dihuni masyarakat Bali Aga, kelompok masyarakat Bali kuno yang masih mempertahankan tradisi leluhur.

Di sini, jenazah tidak dikubur maupun dikremasi. Tradisi yang dikenal sebagai mepasah membuat jenazah diletakkan di atas tanah, lalu ditutupi anyaman bambu sederhana di bawah pohon Taru Menyan. Yang membuat tradisi ini begitu terkenal adalah keberadaan pohon Taru Menyan yang dipercaya mengeluarkan aroma harum sehingga mampu menetralisir bau jenazah.

Namun, tidak semua orang dapat dimakamkan dengan cara tersebut. Hanya mereka yang meninggal secara wajar, seperti karena usia atau sakit, serta telah menikah yang berhak dimakamkan di area utama. Sementara jenazah yang meninggal akibat kecelakaan atau sebab tidak wajar akan dimakamkan di lokasi berbeda.

Lokasi pemakaman ini berada di sisi timur Danau Batur dan hanya dapat dicapai menggunakan perahu dari Dermaga Kedisan dengan waktu tempuh sekitar 45 menit.

Pilihan Redaksi

  • Pulau Hidden Gem di Spanyol Ini Cuma Punya Satu Lampu Lalu Lintas
  • Bakal Ada 100 Taksi Air Listrik di Maladewa dalam 3 Tahun Mendatang
  • Ada Indonesia, Ini Daftar 3 Pulau Surga Tersembunyi di Asia Tenggara

2. Pulau Imam, Maluku Utara

Berbeda dengan Trunyan yang masih berada di dekat permukiman, Pulau Imam di Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, memang tidak memiliki penduduk tetap.

Pulau kecil yang berada tepat di depan Kota Weda ini sejak lama difungsikan sebagai kawasan pemakaman warga. Masyarakat setempat mengenalnya sebagai Pulau Imam atau Pulau Koleyevo.

Keunikan lainnya, pulau ini menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi dua komunitas agama sekaligus. Area pemakaman Muslim berada di satu sisi pulau, sedangkan makam umat Nasrani berada di sisi lainnya.

Sebuah jembatan kecil dibangun sebagai tempat berlabuh bagi keluarga dan peziarah yang datang berziarah ke makam kerabat mereka. Menurut cerita masyarakat, Pulau Imam dijadikan lokasi pemakaman karena kondisi tanah di Kota Weda yang didominasi rawa sehingga kurang ideal untuk dijadikan lahan pekuburan.

3. Pulau Metu Debi, Papua

Pulau Metu Debi di Teluk Youtefa, Kota Jayapura, Papua, juga dikenal sebagai pulau kuburan tua yang memiliki nilai sejarah tinggi. Pulau kecil yang berada di wilayah Kampung Tobati dan Enggros ini menjadi tempat dimakamkannya para leluhur suku Tobati, tokoh adat, hingga misionaris yang berperan dalam penyebaran agama Kristen di wilayah Tabi.

Selain dikenal sebagai situs pemakaman bersejarah, Pulau Metu Debi juga menjadi saksi masuknya Injil di Tanah Tabi pada 7 Maret 1910. Kini, kawasan tersebut tidak hanya menjadi destinasi ziarah, tetapi juga tujuan wisata sejarah dan ekowisata. Pengunjung dapat menikmati hamparan pasir putih, hutan mangrove, serta panorama Teluk Youtefa sambil mengenal sejarah masyarakat setempat.

Meski sering dijuluki sebagai 'pulau yang hanya dihuni kuburan', Pulau Metu Debi tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Papua.

(tis/tis)

Add

as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]